Saturday, January 15, 2011

03. JOKI ITU BERNAMA KARNI



Joki, sebuah profesi bergengsi yang di lakoni seorang penunggang kuda balap. Dia adalah Manager sekaligus pelaksana menang dan kalahnya sebuah perlombaan pacuan kuda. Tidak sedikit kuda yang di kendalikan berharga sangat mahal, perawatan nya pun serba mahal.

Namun ternyata, posisi Joki yang luhur akhirnya di telikung dengan pekerjaan yang tidak sehebat aslinya. Di Jakarta ata Joki 3 in 1. Para "penumpang gelap" yang dimanfaatkan oleh para pemilik mobil berduit untuk "numpang" dan dikasih "uang rokok" agar mobil nya bisa melewati kawasan Thamrin. Padahal tujuan dibatasinya minimal 3 orang penumpang dalam 1 mobil agar mengurangi kemacetan. Alih-alih kemacetanya hilang, malah peraturan ini sering di salah artikan dan di salah gunakan.

Joki Ujian masuk perguruan tinggi, Joki ujian PNN dan Joki-Joki lainya yang konotasinya negatif.

Terakhir yang sedang mencuat adalah "JOKI TAHANAN"

Tidak tahu dari mana ide yang cukup brillian ini muncul dan melatarbelakangi tindakan "nyleneh" ini. Di Bojonegoro sebuah kota di Jawatimur. Di kota yang atmosfirnya cukup tenang itu tiba-tiba menyontak seluruh mata, pikiran dan perdebatan opini tentang Joki Tahanan.

Adalah KARNI, seoarng wanita paruh baya dari keluarga sederhana yang dengan suka rela "menyerahkan" jiwa dan ragaganya demi "Kasiyem" pengusaha pupuk yang terjerat perkara hukum.

Ibu KARNI dengan sadar menukar kebebasan dan "KEMISKINAN" nya demi 10 juta. Uang itu tujuannya untuk membayar hutang yang membelit kehidupannya selama ini. Tak ada yang gratis di dunia ini, jika ingin lepas dari masalah, harus ambil resiko. Itu mungkin yang ada di benak ibu KARNI saat itu.

Ini sebuah fenomena, kalau di beberapa negara pengangguha perkara bisa di bayar dengan "DENDA" akan tetapi terlalu dini untuk negara INDONESIA tercinta. Karena tidak ada jaminan "UANG PEMBEBASAN BERSARAT" ini kan aman dari mental aparat yang sudah "SAKIT".

Jika harga "KEBEBASAN" dari sorang KASIYEM seharga 10 juta, berapa harga untuk seorang GAYUS, SAMSUL NUR SALIM, EDDY TANSIL dan banayak lagi.

Jika hukum bisa dijual belikan, apalagi yang "BERHARGA" di negeri ini.....

No comments:

Post a Comment